Marice Uyo: Sedih Kalau Ada Anak Asli Port Numbay putus pendidikan di tengah jalan
JAYAPURA-Perempuan asli Papua khususnya Port Numbay didorong mengenyam pendidikan lanjutan di perguruan tinggi menjadi guru Bimbingan Konseling (BK). Meskipun disiplin ilmu lainnya juga penting untuk mengisi pembangunan berkelanjutan di atas tanah ini.
Dorongan itu disampaikan wanita asli Port Numbay yang juga Koordinator Guru Bimbingan Konseling se-Papua, Marice Uyo,S.Pd. Menurutnya, banyak kasus yang terjadi di Kota Jayapura yang perlu penanganan lebih baik oleh ahli konseling.
“Saya sangat mengharapkan perempuan khusus Port Numbay supaya bisa mengambil disiplin ilmu Bimbingan Konseling,” kata Marice yang juga guru BK di SMA Negeri 4 Jayapura.
Marice menganggap disiplin ilmu lainnya pun bagus, hanya dia mendorong supaya disiplin ilmu BK ini pun diminati oleh perempuan-perempuan Port Numbay.
“Semua ilmu itu baik, hanya saya mendorong supaya ilmu BK ini juga diminati karena banyak kasus di Jayapura yang membutuhkan campur tanngan kami (ahli BK,red),” katanya.
Marice menyebut perilaku menyimpang yang terjadi di Kota Jayapura dengan menggunakan Narkotika hingga terkena HIV-AIDS merupakan satu dari sekian kasus sosial yang terjadi.
“(Sehingga) anak-anak dengan kasus ganja, HIV-AIDS harus dapat ditangani dengan baik oleh ilmu konseling,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat dan sekolah terkadang orang tua dan guru tidak mampu menangani.
“Makanya saya minta kepada orang tua yang ingin anaknya menjadi guru supaya bisa memasukannya menjadi guru Bimbingan Konseling,” harapnya.
Mengapa dirinya mendorong perempuan Port Numbay menjadi gurus BK, supaya ke depan permasalahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat di Kota Jayapura mampu diselesaikan oleh anak-anak asli sendiri.
“Saya tidak mau negeri ini menjadi kotor hanya gara-gara ganja. Mari kita selamatkan generasi yang ada ini dengan pendidikan dan moral yang baik (sehingga) masa depan yang kita harapkan terwujud,” pesannya.
Selain itu, ia melihat peminat menjadi guru BK di Papua khususnya anak-anak asli Port Numbay sangat kurang. “Saya lihat guru BK di sekolah-sekolah sangat kurang anak asli Papua khususnya Port Numbay. Makanya saya sangat harap sekali ada guru BK lainnya selain saya anak asli Port Numbay,” tandasnya.
Marice juga berharap anak-anak asli Port Numbay baik perempuan maupun laki-laki supaya mengutamakan pendidikan dari tingkat SD-Perguruan Tinggi. “Saya sebagai perempuan Port Numbay merasa sedih kalau anak-anak asli kita yang putus di tengah jalan. Mari kita merdeka dalam hal pendidikan,” pungkasnya.(yud)