JAYAPURA-Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali dilaporkan membakar gedung sekolah serta rumah guru di Beoga, Kabupaten Puncak, Kamis (8/4) petang, pukul 18.15 WIT.
Pembakaran, menyusul penembakan yang menewaskan seorang guru SD bernama Oktovianus Rayo (43) oleh anggota kelompok tersebut di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Kamis (8/4) pagi, sekira pukul 09.30 WIT.
Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Mustofa Kamal mengatakan gedung sekolah yang dibakar KKB yakni SD Jambul, SMP Negeri 1 dan SMA 1 Beoga serta rumah guru.
“Kamis, sekitar pukul 18.15 WIT, datang beberapa warga ke Polsek Beoga melaporkan adanya pembakaran Gedung SD Jambul, SMP N 1 dan SMA 1 Beoga serta rumah guru yang dilakukan oleh KKB,” kata Kamal di Kota Jayapura, Jumat (9/4).
Mendapat informasi tersebut, personel gabungan Polsek Beoga dan Polres Puncak mendatangi lokasi kejadian, lalu mendapati bangunan tersebut sudah dilahap si jago merah.
“Saat ini personel gabungan masih melakukan pengejaran terhadap KKB yang melakukan pembakaran. Sementara situasi di Distrik Beoga saat ini masih bisa dikendalikan,” ujar Kamal.
Dia menyebut pelaku pembakaran merupakan KKB di bawah komando Sabinus Waker yang dikenal kerap melakukan teror di Kabupaten Puncak. Kelompok ini tak lain adalah pelaku penembakan yang menewaskan guru bernama Oktovianus Rayo (43), Kamis (8/4) pagi.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Christian Sohilait mengutuk keras pelaku penembakan terhadap seorang guru di Kabupaten Puncak, Kamis (8/4) kemarin.
Dia mengungkapkan situasi penembakan yang terjadi di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, itu membuat guru lainnya khususnya non-Papua menjadi tidak nyaman. Hal itu dikhawatirkan berdampak pada para guru yang bertugas di daerah pedalaman lainnya.
“Kami berharap agar pihak keamanan setempat dapat segera mengungkap, mengejar dan menangkap pelaku pembunuhan atau penembakan tersebut, agar tidak meresahkan warga dan tenaga pendidik di daerah itu,” ujar Sohilait kepada wartawan di Kota Jayapura, Jumat (9/4).
Dia menyayangkan aksi brutal tersebut. Sebab, mencari guru untuk ditempatkan di daerah Pegunungan Papua sangat sulit. Bahkan, jumlahnya pun sangat terbatas. Sementara pendidikan di Papua sangat penting untuk membangun SDM yang berkualitas.(tmb)