JAYAPURA – Kita tidak pernah tahu hidup kita kedepan seperti apa, lima tahun yang akan datang, sepuluh tahun yang akan datang, dan seterusnya. Begitu juga perjalanan hidup Nepa Busup SE, yang baru-baru ini dilantik menjadi anggota DPRD Kabupaten Yahukimo.
Nepa Busup SE, merupakan anggota termuda di DPRD Yahukimo, ia kelahiran 2 Juni 1991. Dan siapa sangka kader Partai Amanat Nasional ini pernah hidup susah, bertahun-tahun menjadi penjual koran di lingkaran Abepura, pernah menjadi tukang babat rumput, semua itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliahnya.
“Lulus SD di Korupun saya ke Wamena sekolah di SMPN 1 Wamena, setelah lulus SMP ikut Hercules ke Jayapura, lanjut SMA di SMA 45 Entrop kemudian kuliah di STIE Port Numbay,” katanya ia mulai mengurai kisahnya, Sabtu (23/05).
Sepanjang merantau di Jayapura, ia membiayai hidupnya sendiri, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga kebutuhan pendidikannya.

“Waktu itu prinsip saya harus ada uang, tidak ada uang tidak makan. Saya jualan Cepos di Lingkaran Abepura dari tahun 2009 sampai 2015, waktu itu harga Cepos masih Rp.7.000 saya setor satu Rp. 5.000 jadi dari satu koran untungnya Rp. 2.000,” katanya.
Dalam satu hari kadang terjual 20 eksemplar kalau ada berita bagus bisa 50 eksemplar, lumayan katanya bisa untuk makan.
“Sambil jualan koran, saya kuli babat rumput. Satu kali babat, kalau halamannya luas dapat Rp. 50.000 kalau halamannya kecil dapat Rp. 20.000 atau Rp. 25.000,” ungkapnya.
Dalam kondisi apapun, tidak boleh menyerah dengan satu tujuan bisa berhasil menjadi sarjana, dan impian itupun terwujud.
“Saya lulus tahun 2013 tapi wisuda tahun 2015, karena waktu itu harus bayar Rp. 3 juta, saya tidak ada uang, jangankan bayar Rp. 3 juta, kuliah saja kadang jalan kaki dari Kotaraja ke Entrop, kalau ingat waktu itu sedih juga, jalan sepanjang skilen, kalau cape atau kepanasan duduk dulu diatas rumput-rumput, istirahat dulu kemudian jalan lagi,” katanya.
Berkat bantuan Abock Busup, yang kala itu masih menjadi anggota DPRD Yahukimo, ia bisa membayar Rp 3 juta untuk wisuda.
“Setelah lulus, saya mulai ikut di Partai Amanat Nasional mengikuti jejak Bupati Yahukimo Abock Busup dan Alm. Anias Magayang, dari mereka lah saya banyak belajar,” katanya.

Diakuinya, saat pemilu legislative 2019 ia ditawari menjadi caleg di Dapil I Yahukimo, awalnya ragu, tapi ini peluang dan kesempatan, akhirnya di terima maju menjadi caleg bersaing dengan politikus lainnya.
“Puji Tuhan suara saya terbanyak di Dapil I dengan jumlah suara 1.820,” katanya.
Dan setelah diumumkan terpilih menjadi anggota dewan, ia pun pulang kampung menemui keluarganya.
“Saya anak ke dua tujuh bersaudara, tapi tiga orang sudah meninggal tinggal kami berempat. Bapa saya Alm. Semon Busup, mama Menapen Dapla,” ujarnya.
Nepa keluar dari kampung setelah lulus SD, dan baru pulang setelah diumumkan terpilih menjadi anggota dewan. Sekitar 13 tahun ia memendam kerinduan bertemu dengan keluarga, karena ke kampung ongkosnya mahal jadi harus berhasil dulu baru bisa pulang.
Kepulangannya ke Korupun disambut suka cita keluarga, dan doa-doa pun dipanjatkan keluarga agar ia sukses, dan bisa bekerja dengan baik.
“Setelah dilantik menjadi anggota dewan, saya akan bekerja sesuai dengan tupoksi yaitu mengawal program pemerintah dan menyampaikan aspirasi dari masyarakat,” katanya.(nk)