Kapolsek Beoga: Personel Keamanan di Beoga Minim
JAYAPURA-Aksi brutal kembali dilancarkan Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Minggu (11/4) malam TPN-OPM kembali membakar sembilan ruangan sekolah SMPN 1 Beoga yang satu berlokasi dengan SMAN 1 Beoga dan SD Inpres Beoga, Kabupaten Puncak. Jumlah itu terdiri dari enam ruangan kelas, satu ruang laboratorium, satu ruangan perpustakaan dan sebuah gudang.
Kapolsek Beoga Ipda Ali Akbar menyebut ada dua gerombolan TPN-OPM yang melakukan pembakaran. Mereka yakni Kelompok Muara dan TPN-OPM yang dikomandoi langsung oleh Lekagak Telenggen.
“Kemarin malam (11/4) sekitar pukul 18.25 WIT, mereka bakar enam ruang SMP ditambah satu ruang laboratorium, satu ruangan perpustakaan dan gudang, jadi total sembilan ruangan yang dibakar,” kata Ipda Ali Akbar yang dihubungi dari Jayapura, Senin (12/4) sore.
TPN-OPM sempat melepaskan tembakan ke arah Koramil Beoga dengan tujuan provokasi. Tembakan dilancarkan sejak pukul 07.45 hingga 10.30 WIT. Ali meyakini jika TPN-OPM masih bersembunyi di ujung Bandara Beoga untuk melakukan teror sewaktu waktu.
Dia berharap penebalan personel dari Mimika dan Intan Jaya segera tiba untuk penindakan terhadap kelompok tersebut. Sebab, jumlah personel keamanan di Beoga cukup minim.
“Kami berharap personel perkuatan segera masuk untuk lakukan pengejaran terhadap penembakan kepada guru,” katanya.
Ali juga mengungkapkan bahwa stok bahan makanan di Polsek dan Koramil Beoga semakin menipis. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat puluhan warga non-Papua mengungsi di dua markas itu.
“Sudah satu minggu ini tidak pernah ada penerbangan, cuma satu kali pesawat masuk untuk ambil jenazah saja. Stok makanan paling dua hari lagi habis,” akunya.
Seperti diketahui, situasi di Beoga mencekam pasca-penembakan berantai terhadap dua orang guru oleh TPN-OPM, pekan lalu. Oktavianus Rayo, guru SD Inpres Beoga tewas ditembak saat menjaga kios di rumahnya pada Kamis (8/4) lalu sekira pukul 09.30 WIT. Oktovianus tewas setelah menderita dua luka tembak di rusuk kanan.
Besoknya, Jumat (9/4), Yonathan yang juga rekan seprofesi Okto tewas ditembak saat mencari terpal untuk membungkus jenazah Okto. Yonathan sendiri sempat dilarikan warga ke Puskesmas Beoga, namun nyawanya tak tertolong.
Kedua jenazah dievakuasi ke Mimika pada Sabtu (10/4). Evakuasi akhirnya bisa dilakukan setelah pemerintah setempat membayar sejumlah uang tebusan kepada TPN-OPM untuk membiarkan pesawat masuk ke Bandara Beoga.
Salah satu pengungsi yang tak mau disebut namanya mengaku tengah mengungsi di kompleks Markas Koramil Beoga. Ia bersama 13 orang warga termasuk seorang bayi dan dua Balita.
“Stok makanan kami sudah sedikit. Sisa untuk 1 hari, kalau susu untuk bayi ini mungkin sore ini sudah habis,” akunya.(tmb)