JAYAPURA– Menghadapi jurang resesi ekonomi khususnya di Papua, Perbarindo yakin bisa melewatinya dan bertahan.
“Melihat trend Maret hingga Juni, kinerja BPR saat ini bisa bertahan hingga akhir tahun, dimana menurut data BPR hingga Juni 2020 jika dibandingkan dengan 2019 lalu masih bisa tumbuh,” ujar Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (PERBARINDO) Papua Maluku, Arif Windarto kepada BintangPapua.online melalui Whatsapp, Selasa (11/8)
Memang diakui pengurus Perbarindo, dari pusat hingga daerah mewanti-wanti dan meminta memantau akan adanya efek domino yang dialami BPR jika ada salah satunya kesulitan atau terkena pengawasan khusus oleh OJK atas resesi tersebut.
” Oleh sebab itu, guna menjaga itu semua, agar menjaga likuiditas atau cash ratio karena ini memegang kepercayaan masyarakat,” katanya.
Selain itu, upaya kaitannya new normal diperbankan juga terus dilakukan seperti efisensi, fokus prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit dan berbagai upaya lainnya, hingga pertumbuhan ekonomi yang saat ini minus bisa kembali seperti semula.
” Kalaupun kondisinya masih seperti ini, dan anggap saja tidak menunjukkan perubahan ekonomi hingga tahun depan, pihaknya sudah mulai menerapkan new normal perbankan,” katanya.
Iapun berharap, agar teman-teman Perbarindo untuk tetap berhati-hati dalam mengelola dan menerapkan grand strategy masing-masing BPR agar tetap bertahan di masa sekarang ini.
” Visi tiap BPR kan berbeda, tetapi Perbarindo mengajak pengelola BPR untuk mulai melihat ulang rencana bisnis ditengah ketidaktentuan ekonomi sekarang ini,” katanya.
Arif meminta sebagai Pengurus Perbarindo Papua Maluku agar masyarakat tidak perlu ragu jika ingin bertransaksi, termasuk menyimpan dananya di BPR berupa Tabungan maupun Deposito karena seluruh BPR di Papua dan Papua Barat merupakan peserta LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) artinya Simpanan nasabah BPR dijamin oleh LPS sesuai ketentuan yg berlaku dan semua BPR diawasi oleh OJK. (Sindung)