BerandaRagamBaru Satu Buku dari Papua yang Diterjemahkan Lontar

Baru Satu Buku dari Papua yang Diterjemahkan Lontar

JAYAPURA– Dari sekian banyak buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Yayasan Lontar, dari Papua baru satu buku yaitu Anggadi Tupa Menuai badai karya John Waromi.
Yuli Ismartono dari Yayasan Lontar mengatakan, masih minimnya buku dari Papua yang diterjemahkan oleh Yayasan Lontar, bukan berarti minat menulis di Papua kurang, tetapi faktor pendukungnya yang kurang.
“Yang memiliki talenta menulis di Papua banyak sekali, hanya saja masih banyak kekurangan terutama faktor pendukungnya, seperti penerbit yang bisa menerbitkan buku,” katanya, usai pembukaan pelatihan menulis fiksi, Jumat (28/02)
Menurutnya, penerbitan ada industrinya sendiri, dalam hal ini Lontar menerbitkan buku-buku yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris .
“Ada beberapa proses sebelum buku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris, kami melakukan riset kelayakan, karena tidak semua buku bisa diterbitkan dan diterjemahkan oleh Yayasan Lontar,” katanya.
Biasanya yang terjemahkan, adalah buku-buku yang sudah dicetak dalam bahasa Indonesia, setelah dinilai layak untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris, baru oleh Lontar diterjemahkan.

Yuli Ismartono dari Yayasan Lontar

“Dan untuk memotivasi agar anak-anak muda Papua lebih tertarik lagi dengan menulis Yayasan Lontar bekerjasama dengan PT. Freeport Indonesia, Universitas Cenderawasih, dan Wikimedia Indonesia, selama 2 hari membuat pelatihan menulis Fiksi dengan tajuk “Papua Panggil Ko Tulis Ko pu Kisah” yang narasumbernya Dorothea Rosa Herliany (penulis novel mengenai Papua) dan Ibiroma Wamla (penulis dan pendiri komunitas sastra Papua),” jelasnya.
Menurut Yuli, Ini baru pelatihan, kemudian dilanjutkan dengan menulis, proses selanjutnya diserahkan ke penerbit dinilai dulu layak tidaknya untuk diterbitkan.
“Banyak yang menarik dari Papua tetapi belum digali dengan baik, termasuk sastra dan budayanya. Di Papua kental dengan budaya narasi atau budaya lisan, budaya menulis masih kurang. Tugas penulislan yang menuliskan budaya lisan menjadi tulisan,” katanya.
Sementara itu Riza Pratama dari PT. Freeport mengatakan, tujuan utama dari pelatihan menulis ini untuk melestarikan budaya Papua.
“Di Papua bahasanya banyak, budayanya pun beragam demikian juga dengan kearifan lokalnya, itu harus dilestarikan, salah satunya dengan menulis,” katanya.
Karena lanjutnya, jika tidak dituangkan dalam tulisan tidak menutup kemungkinan akan hilang.
“Kalau tidak dituangkan dalam tulisan, tidak ada yang membaca, dan orang diluar luar sana tidak akan tahu. Tetapi jika ditulis, orang membaca dan mereka bisa mengetahui keunikan Papua,” katanya. (nk) **

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer

Komentar Terbaru

error: Content is protected !!