JAYAPURA-Tim kesehatan Penanganan Covid-19 Papua memastikan akan melakukan pemeriksaan 1000 sampel swab test yang saat ini masuk dalam daftar antre.
Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Papua, dr Silwanus Sumule,Sp,OG (k) mengatakan Senin (15/6) masih ada 1000 an sampel swab yang belum di periksa.
“Namun kami pastikan malam ini akan running kembali, mudah-mudahan kita bisa habiskan 1000 sampel yang antri dalam dua tiga hari ke depan,” jawab dr Sumule saat menjawab pertanyaan dari salah satu wartawan terkait hasil pemeriksaan swab test dalam meeting pers Senin (15/6) dari ruang Media Center BPBD Provinsi Papua.
Dikatakan, apabila perhitungannya secara angka kumulatif hitungan secara penjumlahan sehingga apabila dilakukan evaluasi tidak bisa menggunakan angka kumulatif untuk mengatakan puncak penyebaran virus Corona (Covid-19) sudah terjadi di provinsi ini.
“Kalau melihat grafik harian bisa dilihat perkembangannya dalam per hari dan per minggu,” terangnya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Papua ini mengungkapkan bahwa untuk Papua sendiri per minggu tertinggi terjadi di Minggu ke 22 sekitar 280 kasus dan saat ini menurun menjadi 204.
“Memang ada kesan dia (virus Corona,red) menurun. Tetapi angka penurunan ini dilihat dari beberapa faktor. Saat di angka 280 semua alat–alat PCR dan TCM kita berfungsi dengan baik,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, pada Minggu–Minggu tertentu hanya ada 1–2 kasus yang menurun. Namun saat angkanya menjadi tinggi, saat itu semua serempak melakukan tes khususnya 14 kabupaten/kota yang terdampak.
“Evaluasi untuk mengatakan apakah Provinsi Papua sudah sampai pada angka puncak penyebaran Covid-19 yaitu harus melakukan pemeriksaan PCR secara konsisten. Misalnya per hari kita putuskan memeriksa 500 sampel tidak boleh berhenti selama 2 minggu ke depan. Dari sinilah akan terlihat,” urainya.
Ia menambahkan, namun yang lebih bagus lagi apabila 500 sampel ini mewakili seluruh kabupaten/kota. Jangan sampai hanya mewakili Kota dan Kabupaten Jayapura dan Timika yang menjadi lumbung pasien Covid-19 terbanyak di provinsi ini.
“Akan tetapi ini tidak mewakili Papua secara keseluruhan. Karena ada 3 wilayah ini saja,” paparnya.
Dengan tidak lancarnya pemeriksaan PCR, kata dr Sumule, akan menyulitkan pihaknya untuk memprediksi dan menghitung grafik peningkatan atau penurunan kasus di Papua.
“Ada tiga aspek yang harus dipenuhi agar provinsi tertimur Indonesia ini bisa cepat mengetahui sejauh mana tingkat penularan Covid-19 ini. Kapan sampai di puncak dan kapan mulai turun,” katanya.
Pertama, sebut dr Sumule, jumlah sampel yang di periksa harus konsisten. Kalau dalam 1 hari bisa maksimalkan 5 PCR kita berarti pemeriksaan sekitar 1000 sampel per hari dan bila itu bisa dipertahankan dalam satu minggu, maka akan segera mengetahui Ro dan Rt pada setiap pekannya.
Kedua, kata dr Sumule, sampel yang di periksa tiap harinya mewakili 29 kabupaten/kota di Papua. Kalau setiap harinya pengiriman sampel lancar dari 29 kab/kota dan PCR bisa running maksimal itu bagus sekali. Sehingga bisa segera mengetahui angka penularan bukan hanya dari beberapa daerah saja, tapi dari semua daerah.
“Apabila kedua aspek ini terpenuhi maka dirinya optimis bisa segera mengetahui kapan puncak pandemi virus Corona di Papua dan kapan grafik penularan turun,” ujarnya.
“Kita berharap seperti itu. Tetapi kan masalah di lapangan juga banyak, mulai dari keterbatasan tenaga laboratorium, keterbatasan reagen untuk PCR dan juga terkait administrasi pelaporan yang sering terlambat,” pungkasnya.(berti)
1000 Sampel Swab Test Masuk Daftar Antre
